Sebagian orang menganggap, Samsung memulai tren "Phablet" dengan meluncurkan lini Galaxy Note. Model pertama jajaran Note yang Samsung luncurkan berlayar 5,3 inci, ukuran yang biasa sekarang ini, tapi terbilang cukup besar di eranya.
Lebih buruknya, Google baru saja meluncurkan smartphone buatannya sendiri, Pixel dan Pixel XL. Seperti yang disebutkan oleh Engadget, jika Google dapat memanfaatkan momen kegagalan Note 7, mereka dapat mengubah pasar smartphone Android. Hal ini bisa terjadi dengan cepat.
Meskipun Samsung sering disebut meniru Apple, harus diakui, jajaran Note dari Samsung merupakan inspirasi untuk iPhone Plus. Kematian Note 7 bukan berarti Samsung akan berhenti membuat smartphone berlayar lebar, tapi, merek nama baik Galaxy Note mungkin terancam bahaya.
Samsung resmi menghentikan produksi dan penjualan Galaxy Note 7, hanya 2 bulan setelah ia diluncurkan. Meski efek dari masalah Galaxy Note 7 pada Samsung masih belum terlihat, satu hal yang pasti adalah ia merusak nama baik Samsung.
Sebagai perbandingan, ketika itu, iPhone hanya memiliki layar 3,5 inci. Selain itu, Samsung juga mempopulerkan strategi dua smartphone flagship.
Kenali Bahaya Sinar Matahari terhadap Wajah Tidak bisa dipungkiri, hilangnya Note 7 memunculkan celah kosong yang dapat diisi oleh Pixel XL. Meskipun begitu, harga yang tinggi dan keterbatasan ketersediaan Pixel membuat merek-merek seperti Samsung, Huawei dan LG kesempatan untuk bergerak.
Grab Bikin Algoritma Pendukung Aturan Mobil Ganjil-Genap | PT Solid Gold Berjangkar Pusat
"Algoritma pengaringan dan pencocokan ini diluncurkan sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pemerintah mengurangi penggunaan kendaraan pribadi di ibukota saat jam-jam sibuk," kata Head of Product Grab Indonesia Bernard Hosanna dalam keterangan resmi, Selasa (11/10).
Menurutnya, algoritma ini merupakan salah satu bentuk pemanfaatan layanan pemesanan kendaraan untuk menyelesaikan permasalahan transportasi, sekaligus mendukung upaya menekan kemacetan lalu lintas. Sistem algoritma yang dikembangkan Grab ini sudah terintegrasi dalam aplikasi yang dipakai pengemudi GrabCar dan bisa digunakan mulai hari ini (11/10).
Algoritma yang dikembangkan ini bertujuan menyaring dan mencocokkan plat ganjil-genap dengan kendaraan milik mitra pengemudi sesuai lokasi penjemputan dan tujuan, jam, serta tanggal perjalanan.
Dengan menggunakan filter, algoritma ini secara otomatis akan mendapatkan tumpangan dengan kendaraan yang memenuhi syarat dari sisi penjemputan dan tujuan di mana kebijakan tersebut diberlakukan. Penggunaan data analytic dan machine learning secara realtime yang disesuaikan dengan wawasan lokal, dalam hal ini aturan pemberlakuan plat nomor ganjil-genap.
Kemacetan lalu lintas merupakan salah satu permasalahan berkelanjutan yang diprediksi menjadi penyebab kerugian ekonomi sebesar Rp35 triliun setiap tahunnya. Sebagai upaya mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas, pemerintah DKI Jakarta sejak 1 September secara resmi memberlakukan aturan plat mobil ganjil-genap di lokasi dan waktu tertentu.
Untuk mendukung aturan pembatasan kendaraan demi menekan angka kemacetan lalu lintas, Grab secara khusus mengembangkan algoritma yang bisa menococokkan aturan ganjil-genap secara realtime.
Network Sharing Dianggap Bertentangan dengan Tax Amnesty | PT Solid Gold Berjangkar Pusat
Selain potensi kehilangan pendapatan negara dari pajak, praktik network sharing diduga memicu transfer pricing yang mungkin terjadi dari struktur kepemilikan mayoritas saham asing oleh operator telekomunikasi.
"Setiap profit yang bertambah dari penerapan network sharing tidak selalu meningkatkan penerimaan negara lewat pajak," ucap Yustinus di Jakarta, Selasa (11/10).
Menurutnya, jika revisi itu resmi diberlakukan, maka hanya beberapa operator seluler yang menanggung keuntungan dari adanya network sharing. Sebagian besar keuntungan tersebut nantinya justru bakal mengalir ke kantong perusahaan induk mereka di luar Indonesia, sehingga kontradiktif terhadap upaya tax amnesty.
CITA telah mengestimasi pendapatan industri yang hilang mencapai Rp14 triliun. Dengan potensi tersebut jumlah penerimaan negara dari PNBP akan berkurang sebesar Rp245 miliar, Rp1,4 triliun dari PPN, dan Rp559 miliar dari PPh.
Dalam pemaparannya, Prastowo mengatakan dalih utama efisiensi yang ngotot diberlakukannya network sharing hanya berlaku dalam jangka pendek bagi masyarakat. Center for Indonesian Taxation Analysis (CITA) menilai revisi Peraturan Pemerintah Nomor 52 dan 53 Tahun 2000 bertolak belakang dengan kebijakan tax amnesty yang digalakkan pemerintah.
"Efisiensi industri tidak berarti menguntungkan bagi masyarakat, meski mereka (operator telelekomunikasi) berdalih bisa berimbas pada efisiensi industri dari segi bisnis" terang Yustinus.
Hal tersebut menurut Direktur Eksekutif CITA Yustinus Prastowo lantaran setiap keuntungan yang diperoleh perusahaan telekomunikasi dari efisiensi tidak secara langsung meningkatkan jumlah pajak yang akan dibayarkan ke negara.