Pada medio 2015, Hendra merasa punya cukup bekal ilmu di dunia kamod. Dibelinya satu unit kamod bertenaga penggerak baterai dari sesama rekan pencinta kamod di Jakarta. Ia semakin luluh dengan miniatur kereta tersebut.
Gelit kereta model (kamod) alias miniatur kereta berskala 1:87 belum lama jadi dunia Hendra. Bila dihitung, ia mulai mengoleksi kamod sejak satu setengah tahun lalu. Tapi, ketertarikannya bermula pada awal 2011. Itu pun karena ketidaksengajaan. Saat asyik berselancar di YouTube, tak sengaja laman video kamod termuat.
“Sebelum benar-benar terjun di dunia kamod, sempat belajar sampai empat tahun. Belajarnya, ya, dari YouTube dan grup-grup kamod di Facebook,” kata dia saat Maskulin menyambangi kediamannya, Rabu (5/10) siang. Selama empat tahun, ia banyak belajar dan bertanya kepada orang lain yang lebih dulu terjun di sana.
Iseng membuka, Hendra jatuh cinta. Saat awal menyaksikan tayangan, dikiranya itu kereta api sungguhan. Namun, beberapa detik selanjutnya, Hendra lekas sadar yang ia saksikan hanya miniatur. Hasratnya di dunia kamod pun dimulai.
Hingga kini, Hendra terhitung telah tiga kali bongkar-bangun diorama. Seluruhnya memang belum ada yang rampung saat dibongkar kembali. Pertama kali membongkar karena luas diorama yang terbatas. “Ide saya saat itu luas. Tapi, tidak diimbangi media diorama yang luas,” tukas laki-laki 36 tahun itu.
Setelah meluaskan media diorama, dibangun wujud fisik seperti kehendaknya saat itu. Namun, petaka kedua muncul karena ia memiliki ide cerita lain. Menurutnya, ide tersebut bakal membuat dioramanya tampak lebih asli daripada ide sebelumnya.
“Tapi, sekali lagi memang saya sadari ide diorama itu sangat luas. Saya putuskan membongkar apa yang saat itu saya bangun,” jelasnya. Dan, jadilah diorama seperti yang ia bangun saat ini. Bila dihitung persentasenya, diorama kereta kali ini rampung di angka 80 persen. Hendra tinggal menambah beberapa unsur alam.
Seturut itu, ia putuskan membuat maket alias diorama kereta seperti yang dibangunnya saat ini. Membangun diorama berarti membangun cerita. Diakui Hendra, kendala terbesarnya adalah ide.
Sebagian besar rupiahnya habis untuk membeli rel dan kereta mini. Bila ditotal, kini ia memiliki 15 unit kereta dan puluhan rel yang ia sambungkan. Seluruh kereta yang dibelinya itu tak ada yang buatan Indonesia. Seluruhnya berasal dari Benua Amerika dan Eropa.
Selama satu setengah tahun gelut dengan diorama kereta, Hendra merasa kagum dengan apa yang ia buat. Bermodal kreativitas, miniatur pemandangan di sekitar rel kereta berhasil dibuatnya. Namun, itu menjadikannya lebih takjub dengan apa yang Tuhan ciptakan.
“Sepandai-pandainya manusia membuat diorama, ciptaan Tuhan jauh lebih hebat dan tak tertandingi,” ujar dia. Pasalnya, sebelum membuat diorama, Hendra lebih dulu melihat alam sekitar untuk mendapat ide bagaimana diorama yang akan ia buat nanti.
Hendra pun tak mangkir dari ungkapan “ide tak memiliki batas”. Ia setuju benar. Namun, itulah masalah yang dia hadapi. “Ide selalu berkembang. Terkadang, saat memiliki ide dan berusaha mewujudkan, ada ide lain terlintas. Otomatis diorama mesti dibongkar lagi,” kata dia, kemudian tertawa.
Ditanya jumlah rupiah yang ia keluarkan, Hendra sempat tertegun. Dia pernah merahasiakan jumlah rupiah itu kepada sang istri. Namun, diakui Hendra, ia tak bisa lama menutupi gocek yang dirogoh untuk hobinya itu. “Habis lebih Rp 50 juta,” bebernya.
Banjir Terjang Kwadungan Ngawi, UTS Dibatalkan | PT Solid Gold Berjangka Pusat
Di sisi lain, Kapolsek Kwadungan, AKP Suparno, menerangkan, sudah menurunkan anggotanya untuk mengevakuasi siswa. Karena banyak siswa tidak bisa melintasi jalan yang terendam banjir.
Banjir menerjang kembali sejumlah ruas jalan di Kabupaten Ngawi. Tepatnya jalan raya Kwadungan-Ngawi, Desa Purwosari, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi.
Sejumlah pelajar SMP maupun SMA pun bertahan di pinggir jalan. Karena akses jalan menuju sekolah mereka terputus oleh banjir setinggi lutut orang dewasa.
Dia mengatakan takut jika pulang. Karena pekan lalu sudah batal UTS. Dan hari ini merupakan UTS susulan. Dia memilih menunggu bantuan baik dari Polres maupun pihak sekolah.
Arik menjelaskan nantinya bakal lapor ke Dinas Pendidikan Kabupaten Ngawi terkait pembatalan UTS lagi. Dan kemungkinan besar diijinkan. Pasalnya faktor alam.
Sementara siswa lain, Shelma, mengatakan memilih menunggu informasi pastinya. "Saya pilih nunggu informasi. Kan katanya mau dipulangkan. Tapi belum ada kejelasan," terangnya.
Padahal seharusnya mereka menjalani Ujian Tengah Semester (UTS). Rata-rata dari mereka tidak berani pulang. Karena ujian kali ini merupakan ujian susulan, setelah UTS, Senin (3/10/2016) gagal karena banjir.
"Saya pilih bertahan. Karena jika lanjut dengan sepeda motor bakal mogok. Jika berjalan kaki semuanya basah," kata Zulaikah, salah satu pelajar yang pilih bertahan.
"Sudah kami evakuasi ke sekolahnya. Namun sekolahnya memutuskan libur. Jadi kami antarkan kembali," terangnya.
"Namanya banjir, mau gimana lagi. Kan bencana alam. Ya kita liburkan kembali. Hampir semua sekolah di Kwadungan ini," katanya.
Terpisah salah satu guru, Arik budi Handoyo, mengatakan karena banjir kembali menyerang terpaksa membatalkan UTS lagi.
Kopi Gambut, Diminati dan Ramah Alam | PT Solid Gold Berjangka Pusat
Permintaan akan hasil panen kopi gambut ini terbilang tinggi. Dan tentunya harga jualnya memang menawan. Lihat saja harga ini, kopi dengan biji pilihan dipatok Rp65 ribu per kilogram.
Libtukom demikian kopi ini dinamai. Ia akronim dari Liberika Tungkal Komposit. Cukup rumit menyebutnya. Namun jangan heran. Kopi asli yang lahir di tanah gambut basah Jambi ini kini sedang naik daun.
"Kopi kami ini banyak peminatnya di Malaysia dan Singapura. Beberapa kafe di Pulau Jawa juga sudah memesan langsung kepada kami," kata Mudianto, koordinator lapangan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis yang juga petani setempat, Senin, 10 Oktober 2016.
Sementara kopi yang sudah disangrai mencapai Rp150 ribu per kilogram dan yang mahal lagi kalau sudah menjadi bubuk, per kilogramnya dihargai minimal Rp160 ribu.
Gambut basah
Hingga akhirnya pada tahun 2012, diadakanlah penelitian terhadap jenis kopi gambut yang dinamai Exelsa tersebut dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember Jawa Timur. Terungkaplah jika kopi yang ditanami petani di lahan gambut tersebut ternyata merupakan jenis varietas tersendiri. Karena itu kemudian ditetapkan dengan nama Kopi Liberika Tungkal Komposit.
"Sejak tahun tujuh puluhan. Namun pada saat itu tidak sebanyak seperti sekarang ini. Hanya untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Murdianto.
Kemunculan kopi gambut Libtukom, sejatinya bukan barang baru bagi para petani di wilayah Tanjungjabung Barat Provinsi Jambi. Sejak puluhan tahun lalu warga sudah mengenalnya dan dinamai kopi Exelsa.
Murdianto menyebut selama ini dalam proses penanaman kopi gambut tersebut. Tanaman ini dikenal mudah dipelihara dan kuat terhadap penyakit. Umumnya, kata Murdianto, kopi ini baru bisa dipanen setelah berumur 5 tahun.