Posted by PT. Solid Gold Berjangka on Monday, 17 October 2016
"Kalau dibanding negara lain peserta kita banyak, tapi dari sisi teknologi kita masih kekurangan karena kita baru mengembangkan 10 tahun terakhir," ungkapnya.
Vice President Robotic Organizing Commite Indonesia (ROCI) Riza Muhida mengatakan bahwa dari segi teknologi memang Indonesia masih jauh tertinggal dengan negara lain. Karena, kata dia, Indonesia baru mengembangkan robot sejak 10 tahun terakhir.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia sendiri sudah mencoba memasarkan produk robot yang telah dibuat di berbagai pameran maupun secara online. Namun dari sisi teknologi, Indonesia masih kalah bersaing sehingga konsumen pun enggan untuk membeli.
"Biasanya ada yang dijual di pameran, mereka juga coba juga online di mana-mana. Kita robot itu sudah open sebenarnya kita bisa menggabungkan komponen robot-robot. Cuma sekarang kita harus lebih kreatif," kata dia.
"Kalau di negara lain bisa berkembang itu karena robot dibeli oleh masyarakat, lalu uang hasil robot itu kan bisa dikembangkan kembali, kita terbatas, karena robot yang kita bikin itu jarang yang beli," kata Riza kepada VIVA.co.id, di Pusat Peraga Iptek, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu, 16 Oktober 2016.
Untuk itu, kata dia, pihaknya mendorong generasi muda sejak dini untuk menekuni bidang robotik dan teknologi. Dengan ada Kompetisi Robot Nasional (KRON) 2016 diharapkan dapat mengasah kemampuan siswa-siswa di bidang teknologi robotik. Ajang ini juga bertujuan untuk melatih siswa dalam berpikir dengan logika.
Robot buatan Indonesia diakui masih kalah bersaing dengan negara-negara lain yang telah terbilang maju dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Ada berbagai kendala yang kerap menghambat daya saing robot Indonesia dibandingkan dengan negara lain.
Pertama di Dunia, Drone Jadi Alat Kirim Darah di Kawasan Miskin | PT Solid Gold Berjangka
Rwanda menjadi negara pertama yang memiliki sistem pengiriman menggunakan drone. Nantinya, pesawat nirawak digunakan untuk mengantarkan darah pada pasien di area yang sulit dijangkau. Selain Rwanda, Zipline juga menyasar negara-negara di Afrika Timur. Rinaudo berharap, di waktu mendatang drone miliknya bisa membantu kehidupan di berbagai tempat.
Seperti dikutip dari The Verge, Minggu (16/10/2016), Zipline mengumumkan kemitraannya dengan pemerintah Rwanda awal tahun ini. Selama beberapa bulan, perusahaan tersebut melakukan uji coba di sebuah pusat pendistribusian di wilayah Muhanga.
Pada pusat pendistribusian itu, mereka merancang 15 drone bernama Zips yang mampu terbang hingga 150km sambil membawa 1,5kg darah. Drone yang digunakan untuk mengirim darah dibuat oleh perusahaan robotik California, Zipline.
Pemerintah Rwanda sangat menyambut teknologi tersebut. Pada awal tahun 2016, pemerintah membangun sebuah bandara drone yang bakal selesai di tahun 2020. Rencananya, Zipline akan memperluas pengiriman darah hingga timur Rwanda awal tahun depan. Dalam proyek ini, Zipline bekerja sama dengan UPS dan GAVI yang didanai oleh Yayasan Bill Gates.
Dengan teknologi ini, sistem Zipline bisa membantu mereka yang membutuhkan transfusi darah. CEO Zipline Keller Rinaudo mengatakan, banyak orang yang membutuhkan bantuan pengiriman melalui drone.
"Pengiriman darah bisa dilakukan hingga ratusan kali per hari menggunakan drone, dan hal ini bisa membantu menyelamatkan nyawa manusia," tutur Rinaudo.
Ia mengatakan, sistem ini terinspirasi dari pengangkutan yang dilakukan oleh pesawat terbang dan bouncy castle (rumah balon).
Sistem tersebut terdiri dari sebuah kabel panjang yang ditopang dua kutup dengan sebuah matras plastik yang terletak beberapa meter di depan kabel. Kemudian, sistem akan saling berkomunikasi saat sebuah drone tiba dan menyesuaikan arah dari kutup sehingga drone bisa mendarat dengan aman di matras.
Drone untuk mengirimkan darah akan mulai mengudara minggu ini. Pengiriman darah melalui drone bakal membantu 7 juta orang yang ada di area seluas 18.129km. Drone itu akan mengirimkan darah ke 21 fasilitas transfusi yang ada di barat Rwanda. Daerah tersebut adalah kawasan miskin dan sulit dijangkau oleh akses kesehatan.